TINJAUAN CUACA/IKLIM BULAN APRIL 2013

DI WILAYAH JAWA TIMUR

  1. TINJAUAN EL NINO / LA NINA

Pada bulan Maret hingga akhir April 2013 wilayah kita tidak dipengaruhi el nino atau lanina, kondisi normal ini mengakibatkan tidak terjadi penambahan atau pengurangan suplai uap air dari Samudera Pasifik ke wilayah Indonesia. Indeks Dipole Mode menunjukkan kecenderungan nilai pada kisaran netral sehingga tidak berpotensi terjadi pengurangan atau penambahan curah hujan dari Samudera Hindia terutama di wilayah Indonesia bagian barat. Atas dasar kondisi ini pada umumnya wilayah Jatim awal musim kemarau di tahun 2013 jatuh pada kisaran normalnya dengan distribusi curah hujannya tidak terpengaruh secara signifikan.

  1. TINJAUAN MONSUN

Aktivitas monsun Australia yang ditandai dengan nilai indeks monsun Australia berada pada kisaran nilai klimatologisnya, pola angin pada lapisan 850 mb secara umum tidak menunjukkan terjadinya penyimpangan yang signifikan dibanding normalnya. Hal ini menunjukkan bahwa aliran massa udara sama seperti klimatologisnya yang mengakibatkan sebagian besar wilayah Jawa timur pada akhir bulan April sudah memasuki musim kemarau hal ini diperkuat dengan aktifnya monsun timuran dengan pola pergerakan angin dominan dari timuran (angin dari Benua Australia menuju Benua Asia) yang bersifat relatif lebih kering.Kekuatan monsun ditunjukkan oleh perbedaan tekanan antara Asia dan Australia sebesar -8 mb(tekanan tinggi di Australia dan tekanan rendah di Asia).

  1. TINJAUAN SUHU MUKA LAUT PERAIRAN SELATAN JAWA

Suhu muka laut yang terpantau di Samudra Indonesia terutama di Selatan Pulau Jawa menunjukkan kondisi yang masih hangat yakni diatas 29°C dengan anomali antara 0.25 – 0.50°C, kondisi ini memberi kontribusi uap air yang cukup dan meningkatkan pertumbuhan awan-awan hujan di Wilayah Jawa Timur

  1. TINJAUAN PUSAT TEKANAN RENDAH

Kondisi suhu muka laut yang relatif hangat juga memicu pusat tekanan rendah dan badai tropis di Samudra Hindia. Tercatat di dasarian 1 bulan April muncul tekanan rendah dan badai tropis Victoria. Di sekitar pusat tekanan rendah ini memberi peluang terjadinya pemampatan masa udara yang akan membentuk daerah dengan pertumbuhan awan-awan hujan ( daerah konvergensi/inter tropical convergence zone (ITCZ)) yang berimbas Wilayah Jawa terjadi hujan dengan intensitas yang bervariasi

  1. VERIFIKASI AWAL MUSIM KEMARAU DI JAWA TIMUR

Prakiraan musim kemarau 2013 dengan awal musim kemarau di Jawa Timur dimulai pada bulan April dasarian 1, tentunya sebaran awal musim ini juga bervariasi dimasing-masing zona musim. Indikasi awal musim kemarau yang ditandai dengan curah hujan 1 dasarian kurang dari 50 milimeter dan diikuti 2 dasarian berikutnya dapat di lihat rinciannya sebagai berikut :

  • Wilayah dengan awal musim kemarau bulan Maret dasarian 3 meliputi : Kecamatan Gandusari Trenggalek.
  • Wilayah Kabupaten dengan curah hujan lebih kecil dari 50 milimeter berturut-turut 3 dasarian (awal musim kemarau April dasarian 1) meliputi: Kecamatan Sutojayan Blitar dan kec. Solopuro Lamongan
  • Wilayah Kabupaten dengan curah hujan lebih kecil dari 50 milimeter berturut-turut 2 dasarian meliputi: Kecamatan Cerme dan Balongpanggang Gresik, Kec. Kalitidu Bojonegoro, kec Giri Banyuwangi, Kec. Modung Bangkalan dan Kec. Krembangan Surabaya
  • Wilayah Kabupaten dengan curah hujan lebih kecil dari 50 milimeter di dasarian 3 bulan April meliputi: sebagian besar Kecamatan di Jawa Timur.

KESIMPULAN :

  • Kondisi dipole mode dan ENSO bernilai netral sehingga tidak terjadi penambahan/pengurangan pasokan uap air yang signifikan dari Samudera Hindia dan Pasifik.
  • Kondisi SST di selatan wilayah Indonesia hangat / bernilai positif mengakibatkan terjadi penambahan supplai uap air yang cukup signifikan di wilayah kita.
  • Aktivitas monsun Australia yang ditandai dengan nilai indeks monsun Australia berada pada kisaran nilai klimatologisnya mengakibatkan sebagian besar wilayah Jawa timur pada akhir bulan April sudah memasuki musim kemarau.
  • Curah hujan pada bulan April dasarian 1 dan 2 wilayah Jawa Timur masih relatif tinggi, hal ini dikarenakan masih cukupnya suplai uap air dari suhu muka laut selatan Jawa yang masih hangat dan didukung munculnya pusat tekanan rendah dan MJO pada fase 4-5 di perairan Indonesia.
  • Memasuki bulan Mei dasarian 1 curah hujan di Jawa Timur hingga beberapa hari kedepan berada pada kondisi normalnya.

Catatan: jika ada perubahan kondisi dinamika atmosfir maka informasi ini akan di perbarui lagi.

Lampiran Gambar

1

 

 

2

3

4

5

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda setelah Membaca dan Memahami Artikel di atas ?