(Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021 (Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

(Prakiraan - Bulanan) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Jawa Timur Untuk Bulan FEBRUARI Tahun 2022 Update dari Analisis Bulan Oktober 2021

Hasil analisis Bulan Oktober 2021 untuk Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di wilayah Provinsi Jawa Timur pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 sebagian besar CUKUP.

Dimana pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup pada umumnya dalam kondisi basah sehingga menjadikan tanah dalam kondisi Kapasitas Lapang.

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH CUKUP

Diprakirakan Terjadi di : Seluruh Jawa Timur

Dimana pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 diprakirakan curah hujan cukup sehingga menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang.


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH SEDANG

Diprakirakan Terjadi di :

Sebagian Kecil : -

Sebagian : -

Sebagian Besar : -

Daerah – daerah tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, sehingga prakiraan tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KURANG

Diprakirakan Terjadi di :

Sebagian Kecil : -

Sebagian : -

Sebagian Besar : -

Pada daerah ini diprakirakan curah hujan di wilayah tersebut sebagian besar dalam kondisi kurang hingga kering dibawah 40%, sehingga menjadikan tanah dalam kondisi dibawah Kandungan Air Tanah Optimum.


Berdasarkan kondisi ketersediaan air bagi tanaman pada bulan Oktober Tahun 2021 dan PRAKIRAAN CURAH HUJAN pada bulan FEBRUARI Tahun 2022 di seluruh Indonesia, dibuat analisis prakiraan tingkat ketersediaan air bagi tanaman untuk tanaman periode bulan FEBRUARI Tahun 2022

Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.


ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolutmerupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang
    : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang
    : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup
    : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi.

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.


Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL).

Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).


Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

Ia = (D/PE)x100.

Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

Tingkat Kekeringan :

  1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
  2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
  3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

Tingkat Ketersediaan Air bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.


Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV).

DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Indonesia.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1